Lebih Dalam Tentang Vaksinasi Influenza dan Pneumonia

Bagikan Artikel

dr. Linda Levina Dharmawan

(Chief Medical Officer imuni.id)

Apa itu Influenza dan Pneumonia?

Influenza adalah infeksi saluran pernapasan akut akibat Virus Influenza tipe A (H1N1,H3N2) dan tipe B (Victoria, Yamagata) yang sangat mudah menular. Influenza berbeda dengan selesma (common cold), karena gejala yang timbulkan lebih berat. Maka dari itu, Influenza memiliki resiko tinggi perawatan di Rumah Sakit bahkan kematian. World Health Organizations (WHO) melaporkan angka kesakitan Influenza secara Global pada awal Januari 2022 mencapai 16.882 kasus.

Pneumonia adalah radang paru-paru akut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Pneumonia merupakan penyebab kematian tertinggi pada anak usia dibawah 5 tahun. Data dari UNICEF, Setiap 39 detik, ada 1 anak yang meninggal karena infeksi Pneumonia. Selain anak, Infeksi Pneumonia pada Lansia adalah 4x lebih tinggi daripada kelompok usia lainnya. Perjalanan Pneumonia pada lansia memburuk sangat cepat. 1 dari 5 Lansia yang terinfeksi Pneumonia berujung kematian.

Apa Gejala dan Komplikasinya?

Saat terinfeksi Influenza biasanya ditandai dengan demam yang muncul secara tiba-tiba, batuk kering, pilek, nyeri tenggorokan, dan nyeri otot. Gejala ini dapat menetap 5-7 hari.  Influenza yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat menjadi Pneumonia bakterial, infeksi telinga, Sinusitis bahkan Gagal jantung kongestif dan Asma. 

Sementara, gejala Pneumonia tergantung organ yang terinfeksi. Jika menginfeksi selaput otak (Meningitis) ditandai dengan demam, kaku leher, sensitif terhadap cahaya, sesak napas hingga penurunan kesadaran. 50% orang yang terinfeksi Pneumonia mengalami sepsis (infeksi berat) hingga syok sepsis (fatal). Pneumonia juga bisa mengakibatkan infeksi telinga dan Sinusitis. Berdasarkan penyakit yang ditimbulkan, Influenza dan Pneumonia saling berhubungan. Alangkah baiknya untuk bisa mencegah kedua infeksi tersebut, bukan hanya salah satu saja. 

Siapa saja orang yang beresiko tinggi terinfeksi Influenza dan Pneumonia?

Influenza dan Pneumonia ditularkan lewat air liur (droplet) melalui kontak erat dengan penderita. Tempat umum seperti sekolah, kantor, tempat Rekreasi dan panti Asuhan menjadi media penyebaran Influenza dan Pneumonia yang sangat mudah dan cepat. Melaksanakan Protokol Kesehatan dan menjaga higienitas penting dilakukan Ketika berada di tempat umum/keramaian. 

Semua orang memiliki resiko terinfeksi Influenza dan Pneumonia. Kelompok yang merupakan resiko tinggi adalah: 

  • Anak (usia < 59 bulan)
  • Lansia (usia >60 tahun)
  • Wanita Hamil
  • Perokok 
  • Penderita penyakit kronis 
  • Orang dengan kekebalan tubuh yang sangat rendah (immunocompromised)
  • Penyandang disabilitas
  • Tenaga Medis

Bagaimana Mencegahnya?

Pencegahan yang dapat dilakukan dengan melaksanakan protokol kesehatan dengan baik dan meningkatkan kualitas hidup dengan menjaga kebugaran tubuh dan nutrisi yang dikonsumsi setiap hari. Meskipun begitu, Influenza dan Pneumonia termasuk dalam Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Pencegahan dengan imunisasi merupakan cara aman dan efektif. Vaksin Influenza dan Pneumonia merupakan vaksin jenis mati (inactivated). Vaksin Influenza yang direkomendasikan adalah vaksin Influenza Kuadrivalen (Vaxigrip Tetra) melindungi 4 jenis (strain) virus Influenza yaitu subtipe A (H1N1,H3N2) dan subtipe B (Victoria,Yamagata). Saat ini juga tersedia vaksin Influenza Trivalen, yaitu hanya melindungi 3 jenis (strain) virus Influenza.

Pneumonia dicegah dengan vaksin Pneumonia, dimana merupakan vaksin Konjugat, artinya secara imunologi memiliki perlindungan jangka panjang dibandingkan vaksin jenis Polisakarida. Vaksin Pneumonia yang direkomendasikan adalah vaksin PCV13 (Prevenar) melindungi 13 jenis (strain) bakteri Pneumokokal yaitu serotipe 1,4,5,6B,7F,9V,14,18C,19F,23F, ditambah Serotipe 3,6A, dan 19 A.

Bagaimana Penjadwalan Vaksinasi?

Vaksin Influenza umumnya diberikan 1 dosis rutin setiap tahun. Vaksinasi Influenza sudah bisa diberikan pada anak mulai usia 6 bulan. Anak usia 6 bulan – 8 tahun, dosis pertama diberikan 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan, kemudian rutin diulang 1 dosis setiap tahun. Vaksin Influenza juga aman diberikan pada wanita hamil di trimester kehamilan berapapun.

Vaksin PCV13 dapat diberikan pada anak mulai usia 2 bulan, yaitu sebanyak 4 kali pada usia 2,4,6 bulan dan booster di usia 12-15 bulan. Vaksin PCV13 pada dewasa dan lansia cukup diberikan 1 dosis untuk perlindungan seumur hidup.

Mengapa Vaksinasi Penting?

Menurut penelitian, dengan vaksinasi Influenza mengurangi 7.1 juta angka kesakitan, 3.7 juta kunjungan ke dokter, 109.000 perawatan di Rumah Sakit dan 8.000 kematian akibat infeksi Influenza. Sedangkan, Vaksinasi PCV13 melindungi 8 dari 10 bayi dan 3 dari 4 Lansia dari infeksi Pneumonia.  

Selama masa pandemi COVID-19 dimana angka kesakitan dan kematian sangat tinggi, World Health Organizations (WHO) merekomendasikan untuk vaksinasi Influenza dan Pneumonia untuk mencegah infeksi saluran pernapasan berat. Faktanya, pasien COVID-19 yang sudah mendapatkan vaksinasi Influenza dan Pneumonia diasosiasikan dengan insidensi rawat inap yang lebih rendah baik derajat sedang maupun berat. Untuk anak juga memiliki kemungkinan lebih kecil 59% mengalami gejala berat (perawatan di ICU).

Siapa yang Tidak Boleh Mendapatkan Vaksinasi?

Pada dasarnya, semua jenis vaksinasi memiliki kontraindikasi yang sama yaitu tidak boleh diberikan pada individu dengan riwayat alergi berat terhadap pemberian vaksin tersebut sebelumnya. Untuk vaksin Influenza tidak dapat diberikan pada individu dengan riwayat alergi berat terhadap telur, karena vaksin Influenza mengandung protein telur. Penderita Guillain-Barré Syndrome juga tidak dianjurkan vaksinasi Influenza. 

Wanita hamil tidak direkomendasikan vaksinasi PCV13 kecuali mempunyai risiko tinggi terinfeksi Pneumonia. Vaksin PCV13 boleh diberikan pada ibu menyusui.

Vaksinasi dilakukan ketika kondisi tubuh sehat (tidak sedang sakit), sehingga imunitas tubuh siap untuk menerima antigen yang masuk kedalam tubuh. Bila memiliki riwayat penyakit atau sedang mengonsumsi obat-obatan, sebaiknya konsultasikan ke dokter mengenai kelayakan vaksinasi.

Apa Efek Samping yang terjadi setelah vaksinasi ?

Semua vaksinasi masih mungkin terjadi efek samping. Efek samping yang muncul merupakan respon tubuh dalam mengenali Antigen (benda asing) yang masuk melalui vaksin tersebut. Tidak perlu khawatir, efek samping umumnya bersifat ringan, dibagi menjadi Reaksi Sistemik dan Reaksi Lokal. 

Reaksi Sistemik seperti Demam dan/atau lemas pasca Vaksinasi Influenza dan Pneumonia. Hal ini dapat terjadi 12-24 jam pasca vaksinasi. Demam yaitu suhu tubuh >38 °C. Dapat diatasi dengan kompres hangat, rehidrasi yang cukup dan obat penurun panas bila perlu. Pada dewasa sering dirasakan lemas, nyeri kepala, pusing bahkan mengantuk pasca vaksinasi. Cukup dengan minum air putih lebih banyak, istirahat dan beraktivitas ringan dahulu untuk memulihkan kondisi. 

Rekasi Lokal seperti bengkak di lokasi suntikan. Rekasi lokal ini sering terjadi pada Lansia pasca vaksinasi. Bengkak disertai kemerahan tidak menyebar ke lokasi lain. Ambil 1 buah es batu, lalu balut dengan kain tipis. Kompres di daerah yang bengkak selama 15 menit, dapat diulang 3-4x. Efek samping akibat vaksinasi menetap 1-2 hari, tidak berlangsung lama. Bila tidak kunjung membaik atau semakin memburuk, segera konsultasikan ke dokter untuk penganganan lanjut. 

Memilih jenis vaksin yang tepat (lengkap) sangat mendukung masa depan, karena risikonya, masih bisa terinfeksi Virus lainnya yang tidak terkandung dalam vaksin tersebut. Vaksin Influenza Kuadrivalen (Vaxigrip Tetra) dan Vaksin Pneumonia 13 (Prevenar) merupakan pilihan yang tepat untuk mencegah Influenza dan Pneumonia. Jangan tunda lagi pemberian vaksinasi Influenza dan Pneumonia. Segera lengkapi untuk perlindungan diri dan Keluarga yang lebih optimal.

Sumber:

  1. Prevention and Control of Seasonal Influenza with Vaccines : Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices, Unites States, 2021-22 Influenza Season. Centers for Disease Control dan Prevention 2021.
  2. Influenza Update. https://www.who.int/publications/m/item/influenza-update-n-414 
  3. Influenza. https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)
  4. Who Needs a Flu Vaccine. https://www.cdc.gov/flu/prevent/vaccinations.htm
  5. Adverse Reactions Following Vaccination. General Best Practice Guidance for Immunization. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Prevenatble Diseases 14th Edition 2021.
  6. Pneumonia. https://data.unicef.org/topic/child-health/pneumonia/ 
  7. Transmission. Pneumonia. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pneumonia 
  8. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2020
  9. Jadwal Imunisasi Dewasa. Rekomendasi Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI Tahun 2021
  10. Pneumococcal Vaccine : What Everyone Should Know. https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/pneumo/public/index.html 

Bagikan Artikel

Oktober 2021

Jumlah Vaksinasi
50.000
Jumlah Dokter
66

Area Layanan

Jenis Layanan

Agustus 2021

Jumlah Vaksinasi
38.000
Jumlah Dokter
58

Area Layanan

Jenis Layanan

Juni 2021

Jumlah Vaksinasi
21.000
Jumlah Dokter
39

Area Layanan

Jenis Layanan

April 2021

Jumlah Vaksinasi
16.000
Jumlah Dokter
38

Area Layanan

Jenis Layanan

Maret 2021

Jumlah Vaksinasi
14.000
Jumlah Dokter
34

Area Layanan

Jenis Layanan

Desember 2020

Jumlah Vaksinasi
8.000
Jumlah Dokter
29

Area Layanan

Jenis Layanan

November 2020

Jumlah Vaksinasi
5.000
Jumlah Dokter
27

Area Layanan

Jenis Layanan

September 2020

Jumlah Vaksinasi
500
Jumlah Dokter
21

Area Layanan

Jenis Layanan

Agustus 2020

Jumlah Vaksinasi
100
Jumlah Dokter
14

Area Layanan

Jenis Layanan