Mengenal Foodborne Disesase dan Pencegahannya

Bagikan Artikel

dr. Oktaviani Dewi Ratih

(Dokter Konsultan Vaksinasi Imuni @imuni.id)

Pernah mendengar tentang kisah Typhoid Mary? Mary Mallon juga dikenal sebagai Typhoid Mary, adalah seorang tukang masak kelahiran Irlandia yang menginfeksi lebih dari 50 orang dengan Demam Tifoid, tiga diantaranya meninggal, dan merupakan orang pertama dengan Demam Tifoid yang tidak bergejala. Karena ia bekerja sebagai tukang masak, dimana ia menyebarkan penyakit tersebut kepada orang lain, ia dua kali dipaksa karantina, dan meninggal saat isolasi.

Penyakit yang paling sering kita dengar seperti tipes (Demam Tifoid) dan Hepatitis A, merupakan contoh dari foodborne disease. Istilah ini digunakan untuk penyakit yang ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit atau toksin. Penularannya bisa terjadi selama proses pembuatan, pengemasan ataupun saat makanan dikonsumsi. 

Semua orang beresiko tertular penyakit melalui makanan, namun anak-anak, lansia, ibu hamil dan orang dengan kondisi medis tertentu yang daya tahan tubuhnya rendah, jauh lebih berisiko mengalami gejala berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. Tentu saja, hal ini dapat kita cegah.

Mengenal “tipes” Mudah Menular Tapi Sering Diabaikan

Demam Tifoid, atau yang lebih dikenal dengan penyakit tipes merupakan penyakit yang umum terjadi di Indonesia, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhii. Setiap tahunnya, 900.000 orang menderita Demam Tifoid dan 20.000 orang diantaranya meninggal dunia. Gejala yang muncul dapat berupa demam tinggi, lemas, nyeri perut, diare, nyeri kepala, dan ruam kulit. Apabila tidak ditangani, Demam Tifoid bisa menyebabkan gangguan kesadaran, perdarahan dan kebocoran saluran cerna hingga kematian. 

Pencegahan demam Tifoid terutama dengan menjaga kebersihan selama proses pembuatan makanan sampai makanan siap dikonsumsi. Namun bagaimana untuk makanan yang beli di luar, yang proses pembuatannya tidak diketahui? Hal ini yang perlu menjadi perhatian, karena faktanya menjaga kebersihan diri sendiri saja tidak cukup.

Vaksinasi merupakan langkah tepat untuk mencegah demam Tifoid, dengan vaksinasi risiko jatuh sakit menjadi jauh lebih rendah. Vaksinasi Tifoid sudah bisa diberikan pada anak usia 2 tahun dan orang dewasa hingga lansia. Vaksin Tifoid diberikan 1 dosis setiap tiga tahun. Vaksin Tifoid terbukti aman dan efektif melindungi dari bakteri Salmonella typhi penyebab demam Tifoid.

Catat, ini yang perlu diketahui tentang Hepatitis A.

Saat ini Indonesia merupakan salah satu negara endemik infeksi virus Hepatitis A. Menurut Worlds Health Organizations (WHO) 90% anak dibawah usia 10 tahun sudah pernah terinfeksi, kebanyakan tidak bergejala. Namun, 10% diantaranya bisa timbul gejala ringan sampai berat seperti seperti demam, mual, muntah, nyeri perut, urin berwarna gelap, kulit dan mata terlihat menguning sampai kegagalan hati yang bisa mengancam nyawa. Orang dewasa biasanya lebih sering mengalami gejala daripada anak-anak, dan pada lansia angka kematian jauh lebih tinggi. 

Gambar 1. Mata terlihat kuning merupakan salah satu gejala Hepatitis A

Pada negara endemik, kebanyakan infeksi Hepatitis A terjadi pada masa kanak-kanak. Semua orang berisiko menderita Hepatitis A, terutama yang belum mendapatkan vaksinasi dan risiko semakin meningkat pada :

  • Anak berusia 12-23 bulan
  • Individu yang berpergian ke daerah endemik Hepatitis A
  • Individu yang memiliki pekerjaan dengan risiko tinggi terpapar virus Hepatitis A
  • Individu yang tinggal serumah dengan penderita Hepatitis A
  • Individu dengan daya tahan tubuh lebih rendah seperti Lansia dan ibu hamil

Penularan Hepatitis A terjadi melalui fekal oral, dimana virus masuk ke mulut melalui benda, makanan, atau minuman yang sudah terkontaminasi tinja penderita Hepatitis A. Hal ini termasuk makanan beku, makanan yang belum sepenuhnya matang, es balok, dan kerang yang tercemar virus hepatitis. Penularan terjadi ketika seseorang yang menderita Hepatitis tidak mencuci tangannya dengan bersih setelah menggunakan toilet lalu menyentuh makanan.

Untuk pencegahan lebih spesifik dapat dilakukan vaksinasi, dengan adanya vaksinasi Hepatitis A, jumlah penderita semakin berkurang, dan angka kematian semakin menurun. Vaksinasi Hepatitis A dapat diberikan mulai usia 12 bulan, diberikan 2 kali dengan jarak minimal 6 bulan. Apabila pemberian vaksin Hepatitis A sudah lengkap, maka tidak perlu dilakukan pengulangan di masa Dewasa. 

Selain vaksinasi, pencegahan Hepatitis A juga harus didukung dengan meningkatkan kebersihan diri melalui cuci tangan secara benar sebelum makan, disaat mengolah dan menghidangkan makanan, dan setelah buang air.

Jadi, kapan sebaiknya vaksinasi?

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pemberian vaksin lebih dari satu dalam sehari terbukti aman. Vaksin Hepatitis A dan Tifoid dapat diberikan bersamaan dalam satu hari. Masing-masing memberikan perlindungan yang spesifik dan bisa mengurangi resiko jatuh sakit.

Pencegahan dengan menjaga kebersihan diri sendiri saja tidak cukup, karena resiko penularan foodborne disease terjadi dari proses pengolahan sampai makanan siap dikonsumsi, proses ini tentu saja melibatkan banyak orang yang belum tentu sudah mendapatkan vaksin. Sehingga, daripada menunggu anak atau keluarga jatuh sakit sampai memerlukan perawatan, lebih baik memberikan vaksinasi secepatnya sesuai usia untuk mendapatkan perlindungan lebih cepat.

Referensi : 

  1. Foodborne Disease. https://www.who.int/health-topics/foodborne-diseases
  2. Foodborne Germs and Illnesses | CDC 
  3. Most Common Foodborne Illnesses (fda.gov)
  4. Typhoid fever : Background, Patophysiology, Epidemiology. https://emedicine.medscape.com/article/231135-overview 
  5. Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa 2017 : PAPDI
  6. Hepatitis A (who.int)
  7. Pinkbook: Hepatitis A | CDC 
  8. Vaccination | Typhoid Fever | CDC 
  9. Multiple Vaccinations at Once | Vaccine Safety | CDC
  10. Mary Mallon (1869-1938) and the history of typhoid fever. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3959940/
  11. PENULARAN HEPATITIS MELALUI ORAL FEKAL (FECAL ORAL HEPATITIS TRANSMISSION) (unair.ac.id) 

Bagikan Artikel

Oktober 2021

Jumlah Vaksinasi
50.000
Jumlah Dokter
66

Area Layanan

Jenis Layanan

Agustus 2021

Jumlah Vaksinasi
38.000
Jumlah Dokter
58

Area Layanan

Jenis Layanan

Juni 2021

Jumlah Vaksinasi
21.000
Jumlah Dokter
39

Area Layanan

Jenis Layanan

April 2021

Jumlah Vaksinasi
16.000
Jumlah Dokter
38

Area Layanan

Jenis Layanan

Maret 2021

Jumlah Vaksinasi
14.000
Jumlah Dokter
34

Area Layanan

Jenis Layanan

Desember 2020

Jumlah Vaksinasi
8.000
Jumlah Dokter
29

Area Layanan

Jenis Layanan

November 2020

Jumlah Vaksinasi
5.000
Jumlah Dokter
27

Area Layanan

Jenis Layanan

September 2020

Jumlah Vaksinasi
500
Jumlah Dokter
21

Area Layanan

Jenis Layanan

Agustus 2020

Jumlah Vaksinasi
100
Jumlah Dokter
14

Area Layanan

Jenis Layanan