Solusi Tepat Lindungi Diri dan Buah Hati Selama Masa Kehamilan

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

dr. Linda Levina Dharmawan

(Chief Medical Officer imuni.id)

Apakah Boleh Vaksin Selama Kehamilan?

Masa kehamilan adalah momen yang selalu didambakan oleh mayoritas wanita. Banyak yang harus dipersiapkan untuk calon ibu dan buah hati, salah satunya adalah kesehatan. Kesehatan sangat penting karena tentu saja calon ibu harus memelihara kesehatan dengan optimal agar si buah hati dapat berkembang dalam kandungan dan lahir sempurna. Selama masa kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh, termasuk sistem imun. Sistem imun pada Wanita hamil mengalami pergeseran dari imunitas seluler menuju imunitas humoral yang menyebabkan rentan terkena infeksi. Vaksinasi menjadi solusi yang tepat untuk melindungi calon ibu dan buah hati dari penyakit yang bisa membahayakan keduanya. Secara global, epidemiologi Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) semasa kehamilan masih tinggi, maka sudah seharusnya seluruh Wanita hamil mendapatkan perlindungan yang tepat. Melalui vaksinasi, penyakit infeksi menular dapat dicegah yaitu dengan menghambat transmisi vertikal dari calon ibu ke buah hati. Antibodi pada Wanita hamil yang terbentuk oleh vaksinasi, akan memberikan proteksi kepada bayi yang dikandungnya hingga 6 bulan pertama kehidupannya, inilah yang disebut imunitas pasif. 

Keamanan Pemberian Vaksin Terhadap Wanita Hamil dan Bayi yang Dikandung

Keamanan dan efektivitas vaksinasi selama masa kehamilan pernah menjadi perdebatan panjang karena Wanita hamil termasuk kelompok yang perlu perhatian khusus. Pemberian vaksinasi ini dilakukan atas pertimbangan manfaat dan risiko, karena manfaat yang didapatkan lebih besar daripada risiko terinfeksi penyakit yang dapat membahayakan calon Ibu bahkan bayi yang dikandungnya. Semua vaksinasi yang direkomendasikan selama masa kehamilan terjamin aman dan efektif untuk Wanita hamil dan bayi.

Sesuai data  yang ada, tidak ada alasan teoritis untuk mengantisipasi efek samping yang terjadi pada bayi baik dalam kandungan maupun sesudah lahir dalam pemberian vaksinasi jenis mati (inactivated). Sampai saat ini, tidak ada data yang dipublikasikan mengenai teratogenitisitas dan embriotoksisitas pada bayi dari Wanita hamil yang mendapatkan vaksin jenis mati (inactivated). Pada dasarnya, yang perlu diingat adalah, semua jenis vaksin hidup (live attenuated) adalah kontraindikasi pemberian pada Wanita hamil, karena masih ada risiko virus/bakteri yang dapat dikatakan masih “hidup sebagian” masuk melalui plasenta dan menginfeksi bayi yang dikandung. Namun, bila menurut pertimbangan tenaga ahli (dokter) manfaat yang didapatkan lebih besar daripada risikonya, maka vaksinasi hidup (live attenuated) boleh diberikan sesuai indikasi, misalnya ada Wabah atau Pandemi suatu penyakit. 

Gambar 1. Vaksinasi pada Kehamilan
Immunizations and Pregnancy. CDC 2019

Waspada Infeksi Influenza saat Hamil

Influenza (Flu) berbeda dengan Selesma (Common Cold). Gejala Influenza lebih berat, seperti demam tinggi, batuk terus menerus, pilek, nyeri tenggorokan, hingga lemas. Gejala ini dapat menetap hingga minimal 5-7 hari. Wanita hamil memiliki beban metabolisme yang tinggi karena tengah mengandung bayinya. Jika Wanita hamil sampai terinfeksi Influenza, gejala yang dirasakan lebih berat dibanding orang yang tidak hamil. Tentu saja, juga bisa menginfeksi bayi yang dikandungnya melalui transplasenta. Hal yang dikhawatirkan adalah, bayi tidak mendapatkan nutrisi yang cukup melalui plasenta (Intra Uterine Growth Restriction), yang mengakibatkan bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (<2500 gr) hingga lahir prematur, bahkan bayi memiliki risiko tinggi kegagalan penutupan lempeng sarah (Neural Tube Defect) dan kelainan jantung. Menurut data yang ada, infeksi Influenza yang terjadi pada Trimester kedua dan ketiga, mempunyai kecenderungan mengalami  kejang pada anak hingga usia 7 tahun.

Vaksin Influenza merupakan solusi terbaik untuk mencegah sakit berat akibat infeksi Influenza selama masa kehamilan. Vaksin Influenza Kuadrivalen adalah pilihan yang tepat, karena selain merupakan vaksin jenis mati (inactive) juga melindungi 4 jenis (strain) virus Influenza. Vaksin Influenza boleh diberikan di trimester kehamilan berapa saja. Cukup 1 dosis setiap kehamilan atau setiap tahun dapat melindungi Wanita hamil dan bayi yang dikandungnya dari infeksi Influenza. Bayi yang lahir dari Ibu yang sudah mendapatkan vaksin Influenza selama masa kehamilannya, masih mempunyai perlindungan dari infeksi Influenza hingga beberapa bulan setelah kelahirannya. Hal ini sangat bermanfaat, mengingat, bayi baru boleh mendapatkan vaksin Influenza di usia 6 bulan. Vaksin Influenza tidak boleh diberikan pada wanita hamil yang memiliki alergi berat terhadap telur, riwayat Guillain Barré Syndrome (GBS) dan alergi berat terhadap vaksin Influenza. 

Apa Manfaat Vaksinasi Tdap untuk Wanita Hamil?

Vaksin Tdap mencegah infeksi Tetanus, Difteri, dan acelullar Pertusis (Batuk Rejan). Tetanus yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani, mengakibatkan kondisi yang fatal pada ibu dan bayi, atau yang dikenal dengan Tetanus Maternal Neonatorum (TMN). Bakteri ini masuk melalui perawatan tali pusat yang kurang baik sehingga langsung menginfeksi ibu serta bayi sekaligus. Bakteri Tetanus juga bisa masuk melalui luka yang kotor, termasuk proses persalinan yang tidak higienis. Manifestasi klinis bayi yang terinfeksi Tetanus Neonatorum adalah kekakuan pada otot (spasme), yaitu pada otot rahang, perut dan tulang belakang, bahkan bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, seluruh tubuh termasuk otot pernapasan juga mengalami kekakuan yang berakibat fatal. Bakteri Pertussis ditularkan lewat kontak erat dengan penderita yang dapat memberikan gejala batuk keras/rejan. Pada beberapa kasus dapat menyebabkan Pneumonia hingga kerusakan otak. Setiap tahun terdapat 69% bayi usia dibawah 2 bulan meninggal akibat Pertussis. 

Vaksinasi Tdap lebih dipilih dibanding vaksin Td (Tetanus Difteri) karena dapat ditoleransi dengan baik oleh Wanita hamil yang ditunjukan dengan minimal efek samping yang terjadi pasca vaksinasi dan proteksi yang lebih lengkap yaitu juga melindungi Pertussis. Vaksinasi Tdap direkomendasikan pada Wanita hamil di usia kehamilan diantara 27-36 minggu. Pada usia kehamilan ini, respon proteksi pada Ibu dan transfer antibodi pasif kepada bayi yang dikandungnya akan bekerja maksimal setelah 2 minggu pemberian vaksin Tdap. Ketika Wanita hamil mendapatkan vaksinasi Tdap di Trimester ketiga, data menunjukan 77.7% efektif melindungi bayi dari Tetanus, Difteri dan Pertussis, dimana mencapai 90.5% mencegah sakit berat dari penyakit tersebut yang dapat mengakibatkan kematian pada bayi terutama di awal usia kelahirannya. Bayi baru akan mendapatkan vaksinasi Difteri, Tetanus, dan Pertussis (DTP) di usia 2 bulan. 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan, tidak perlu pemberian vaksin Tdap saat waktu pre-konsepsi (sebelum hamil), karena tujuan utamanya adalah melindungi secara optimal selama masa kehamilan. Bila sudah mendapatkan vaksinasi Tdap sebelum hamil, CDC merekomendasikan untuk diberikan kembali di waktu kehamilan yang disarankan. Vaksinasi Tdap boleh diberikan di awal kehamilan bila terdapat indikasi tertentu, dan tidak perlu diulang di usia kehamilan 27-36 minggu yang mendatang. 

Pandemi Covid-19 dan Kenapa Wanita Hamil Harus Vaksinasi?

Wanita hamil adalah kelompok rentan terinfeksi Covid-19, bahkan merupakan risiko menderita sakit berat akibat Covid-19. Covid-19 adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh Coronavirus yang sangat mudah menular melalui kontak erat dengan penderita. Gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi, mengingat, Coronavirus sangat mudah bermutasi. Gejala yang biasanya muncul adalah demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan bahkan hingga hilang penciuman dan pengecap. Namun, beberapa juga tidak menunjukan gejala apapun. Banyak individu yang justru mengalami gejala berat hingga perawatan intensif di Rumah Sakit, salah satunya adalah Wanita hamil. Wanita hamil dengan usia >35 tahun, obesitas, Diabetes gestasional, Hipertensi, dan memiliki riwayat penyakit kronis dapat mengalami sakit berat seperti sulit bernapas dan membutuhkan alat bantu pernapasan (ventilator) yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini diakibatkan karena beban metabolisme Wanita hamil yang lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak hamil. Perlu diperhatikan juga komplikasi yang dapat terjadi pada Wanita hamil yaitu tekanan darah yang tidak terkontrol (Preeklamsia) dan pembekuan darah yang menyebabkan perdarahan berlebihan (koagulopati). Sementara, pada bayi yang dikandungnya meningkatkan risiko lahir prematur hingga perawatan di NICU.

Keamanan dari vaksinasi Covid-19 itu sendiri menunjukan tidak ada bukti adanya efek samping berbahaya pada Wanita hamil dan bayi yang sedang dikandung. Vaksin Covid-19 yang diberikan adalah jenis vaksin mati (inactivated). Berdasarkan aturan dari Perkumpulan Obsteri dan Ginekologi Indonesia (POGI) tahun 2021, pemberian vaksinasi Covid-19 yang dapat dilakukan di Indonesia menggunakan vaksin Pfizer, Moderna, AstraZeneca, Sinovac, dan Sinopharm. Interval masing-masing vaksin menyesuaikan peraturan yang ada, berlaku juga untuk booster. Vaksinasi Covid-19 diberikan di usia kehamilan 12 minggu – 33 minggu. Pemeriksaan tes kehamilan tidak diperlukan sebelum vaksinasi Covid-19.  Selain vaksinasi, tetap patuhi dan jalankan protokol kesehatan yang ada, mengingat penularan Covid-19 sangat cepat dan mudah. 

Apa Saja Vaksinasi yang Boleh Menjadi Pertimbangan Untuk Wanita Hamil

Masih banyak jenis vaksinasi yang sesungguhnya penting untuk mencegah Wanita hamil dari penyakit infeksi. Namun, kembali lagi, karena Wanita hamil merupakan kelompok yang harus diperhatikan, pemberian vaksinasi lain pun juga harus sesuai indikasi. Pada umumnya, semua jenis vaksin mati (inactivated) aman diberikan, tapi tidak secara rutin direkomendasikan selama kehamilan. Prinsipnya, manfaat yang didapat harus lebih besar daripada risiko yang terjadi. Seperti contoh, bila terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pada daerah tertentu, dapat diberikan vaksinasi lain selain yang direkomendasikan. Riwayat penyakit yang dimiliki oleh Wanita hamil juga dapat menjadi pertimbangan, karena lebih mudah terinfeksi penyakit infeksi lain akibat kekebalan tubuh yang rendah. Berlaku juga untuk Wanita hamil dengan risiko tinggi penularan infeksi penyakit tertentu, misalnya memiliki pasangan yang terinfeksi Hepatitis B, sering berganti-ganti pasangan, atau menggunakan jarum suntik secara bergantian dimana merupakan penularan Hepatitis B, sehingga Wanita hamil dan bayi yang dikandungnya dapat terinfeksi Hepatitis B. Data mengenai pemberian vaksinasi lain ini, masih sangat sedikit dan keamanannya belum diteliti secara khusus. 

Vaksinasi yang Tidak Direkomendasikan (Kontraindikasi)

Berdasarkan vaksin yang terlampir di Gambar 1, ada beberapa vaksin yang tidak boleh diberikan pada Wanita hamil, dalam hal ini disebut Kontraindikasi. Kontraindikasi adalah suatu kondisi yang berfungsi sebagai tindakan medis tertentu yang dapat membahayakan pasien. Vaksinasi yang tidak direkomendasikan pada Wanita hamil adalah semua jenis vaksin hidup (live attenuated). Vaksin jenis hidup (live attenuated) berasal dari kuman atau virus dengan tingkat viabilitas dan daya infeksi yang dilemahkan, tetapi mampu menumbuhkan respon imun. Karena mengandung virus yang dilemahkan, terdapat data teoritis yang mengatakan ada potensi masuk melalui plasenta dan menginfeksi janin. Namun, vaksin ini memiliki keuntungan proteksi lama setelah vaksinasi satu kali, merangsang pembentukan sistem imun secara luas dan mampu menyebarluaskan imunitas herd (imunitas pada orang yang tidak divaksinasi). Maka dari itu, sebaiknya, wanita mendapatkan vaksinasi jenis hidup termasuk vaksin MMR (Mumps Measles Rubella) dan Varisela (Cacar Air) sebelum merencanakan kehamilan. Pemberian vaksinasi tersebut, harus selesai (dosis lengkap) 4 minggu sebelum hamil agar antibodi tubuh sempurna dalam waktu 1 bulan pasca vaksinasi lengkap. Vaksin jenis hidup lainnya diantaranya adalah BCG, Japanese Encephalitis (JE), Yellow Fever, dan MR (Measles Rubella).

Rekomendasi Vaksinasi bagi Wanita Hamil yang akan Berpergian (Traveling)

Bagi Wanita hamil yang akan berpergian, boleh dipertimbangkan untuk mendapatkan vaksinasi. Adapun beberapa negara yang merupakan wilayah endemis penyakit tertentu sehingga mewajibkan semua pendatang untuk mendapatkan vaksinasi yang ditentukan agar mendapat perlindungan. Vaksinasi harus selesai (dosis lengkap) maksimal 14 hari sebelum berpergian. Vaksin tertentu, termasuk vaksin Meningokokus dan Polio IPV yang dianggap aman selama kehamilan, dapat diindikasikan berdasarkan risiko. Tidak ada data yang menunjukan terjadinya efek samping pada Wanita hamil atau janin yang dikandungnya. Vaksinasi yang dibutuhkan dapat diberikan sesuai masing-masing jadwal yang sudah ditetapkan. 

Kesimpulan

Mencegah penyakit infeksi sedari dini sangat penting,  karena vaksin memiliki proteksi jangka panjang. Bila sudah memenuhi usia rekomendasi untuk vaksinasi, segera lindungi diri dan pasangan agar kehidupan berkeluarga terhindar dari masalah kesehatan, terutama ketika memasuki masa kehamilan. Vaksinasi yang diberikan selama masa kehamilan tidak hanya melindungi calon Ibu, namun juga calon Buah hati. Vaksinasi lain yang sempat tertunda karena kehamilan, silakan lengkapi dosis selanjutnya tanpa harus mengulang dari dosis pertama. Perhatikan segala kondisi medis yang dimiliki, tetap rutin kontrol kehamilan dan konsultasi dengan dokter sebelum mendapatkan vaksinasi apapun. Mari lindungi Si Buah hati sejak hari pertama kelahirannya dengan vaksinasi selama masa kehamilan! 

Sumber

  1. Vaksinasi Pada Kehamilan. Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa. Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI 2017
  2. Safety and Immunization in Pregnancy for the Fetus and Infant. https://www.canada.ca/en/public-health/services/publications/healthy-living/canadian-immunization-guide-part-3-vaccination-specific-populations/page-4-immunization-pregnancy-breastfeeding.html#p3c3a5 
  3. Tetanus for Clinicians. https://www.cdc.gov/tetanus/clinicians.html 
  4. Tdap (Pertussis) and Pregnancy. https://www.cdc.gov/vaccines/pregnancy/hcp-toolkit/tdap-vaccine-pregnancy.html 
  5. Covid 19, Pregnancy, Childbirth, and Breastfeeding : Answers from Ob-Gyns. https://www.acog.org/womens-health/faqs/coronavirus-covid-19-pregnancy-and-breastfeeding 
  6. Covid-19 and Pregnancy : Conversation Guide. https://www.acog.org/covid-19/covid-19-vaccines-and-pregnancy-conversation-guide-for-clinicians 
  7. Rekomendasi POGI terhadap Vaksinasi Covid-19 bagi Ibu Hamil. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Juli 2021
  8. Pregnant Travelers. https://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2020/family-travel/pregnant-travelers 

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Oktober 2021

Jumlah Vaksinasi
50.000
Jumlah Dokter
66

Area Layanan

Jenis Layanan

Agustus 2021

Jumlah Vaksinasi
38.000
Jumlah Dokter
58

Area Layanan

Jenis Layanan

Juni 2021

Jumlah Vaksinasi
21.000
Jumlah Dokter
39

Area Layanan

Jenis Layanan

April 2021

Jumlah Vaksinasi
16.000
Jumlah Dokter
38

Area Layanan

Jenis Layanan

Maret 2021

Jumlah Vaksinasi
14.000
Jumlah Dokter
34

Area Layanan

Jenis Layanan

Desember 2020

Jumlah Vaksinasi
8.000
Jumlah Dokter
29

Area Layanan

Jenis Layanan

November 2020

Jumlah Vaksinasi
5.000
Jumlah Dokter
27

Area Layanan

Jenis Layanan

September 2020

Jumlah Vaksinasi
500
Jumlah Dokter
21

Area Layanan

Jenis Layanan

Agustus 2020

Jumlah Vaksinasi
100
Jumlah Dokter
14

Area Layanan

Jenis Layanan